UNIK, SANTRI MEREKA SAAT INI ADALAH KAMBING

Jatiwaringin, 15 Februari 2011

Tak sengaja sore itu kami beristirahat di persimpangan jalan Jatiwaringin. Sekalian mencicipi Lontong gulai kambing Rekomendasi rekan satu tim di muntada Ahlil Quran. Untuk urusan makanan, Imam ia memang tak diragukan lagi. Pinter banget milih tempat. Setelah seharian kami menghabiskan waktu dan fikiran untuk merencanakan program kerja mengembangkan Dakwah Al Quran di Indonesia.

Selain menu lontong kambing yang istimewa, ada satu hal yang membuat sore hari itu menjadi lebih ‘istimewa’ . Berawal dari obrolan ringan tentang pemeliharaan kambing yang ternyata tidak berada jauh dari lokasi kami makan. Kami penasaran dengan kambing kambing tersebut. Kamipun meluncur ke TKP dimana kambing berada. Kebetulan saat itu bertepatan dengan azan Magrib. Sekalian mencari musolla untuk solat magrib. Ternyata kandang kambing yang tadi sempat kami bicarakan, tepat berada disebuah PESANTREN TERBESAR DI JAKARTA yang sekarang berubah penggunaannya. Masya Allah, kami semua geleng geleng kepala. Pesantren yang dahulu menjadi pesantren rintisan di daerah Jakarta, yang prestasinya terkenal di seantero Indonesia. Sekarang hanya menjadi Pesantren Kambing Kambing siap potong.

Bangunan bangunan kelas sudah seperti rumah hantu. Lapangan bermain dibiarkan ditumbuhi ilalalang yang menjadi santapan Santri santri baru pesantren ini, Kambing. Ada yang unik disini, saat solat magrib berjamaah di musolla yang masih tersisa, kami masih menemukan sejumlah muslimah yang ikut solat bersama kami. Jumlahnya kurang dari 10 orang. Setelah ditanya, ternyata mereka adalah santri santri luar daerah yang masih bertahan belajar di sana. Sangat miris melihatnya. Mereka adalah santri santri yang niat belajar, namun tidak ada biaya. Alias orang Kismin. Karena ketiadaan biaya inilah pesantren ini akhirnya tidak ada lagi yang sudi mengurus. Padahal, lembaga lembaga lain yang masih dalam naungan yayasan yang sama masih hidup dan berjalan.

Lagi lagi alasannya adalah, karena tidak ada duit. Tidak menghasilkan. Kurang profitable. Lalu kemana para pengurus Yayasan pendidikan terbesar di Jakarta itu. Yang mempunyai Universitas Islam tersohor yang mahasiswanya ribuan orang itu. Sedih rasanya ketika mengetahui kabar dari sumber yang dekat dengan lingkungan pesantren, bahwa semua ini berawal dari disorientasi pengelolanya. Dulu ketika pendahulunya masih hidup. Mereka menghidupkan pesantren untuk kejayaan Ummat. Sekarang, para penerusnya hanya mencari hidup dari pesantren. Alias Cuma sekedar cari duit. Menjadi bahan rebutan anak anaknya. Yang akhirnya pengelolaannya benar benar M A D E S U ! Masa depan Suram. Jangan sampai nasibnya lebih MADESU dari pesantren besar di sebuah kawasan terpencil di Mentawai. Yang saat ini bahkan masjidnya berubah menjadi kandang babi. Nauzubillah….

Ali Afra Siswanto

Tentang ali bashfar abu abdillah

Tahsin Online, Tadabbur Online, Tajwid Online, Ngaji Online, Quran Online
Pos ini dipublikasikan di DUNIA QURAN. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s