Masyarakat Laba-Laba

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui.” (Al-Ankabut: 41)
Sungguh, perumpamaan yang sangat menyentuh. Tentu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan pesan ini dengan penuh hikmah. Namun, Allah menutup perumpamaan ini dengan sebuah frame bahwa hal itu hanya dapat dipahami oleh orang yang berilmu. Hal ini memberi isyarat adanya rahasia besar di balik ayat ini.
Sekilas, ayat itu menggambarkan tentang rumah. Rumah yang –dalam benak kita- berfungsi sebagai tempat tinggal, tempat berteduh, dan tempat yang aman dan nyaman untuk berlindung dari panas dan dingin. Namun, jika kita renungi, fungsi itu tak kita jumpai di rumah laba-laba. Rumah laba-laba tak lebih dari lilitan ludah yang membentuk jaring dan sesekali menjadi penjebak mangsanya.
Rasanya untuk mengatakan bahwa rumah laba-laba memang rumah yang paling lemah tak perlu ilmu. Karena toh sudah tampak dengan nyata kelemahan itu. Lalu, mengapa Allah menutup ayat ini dengan ilmu? Hal ini semestinya menuntut kita untuk mentadabburi lebih jauh lagi.
Penemuan ilmiah menyebutkan bahwa rumah laba-laba yang berupa benang itu memiliki kekuatan yang luar biasa. Jaring ini lebih kuat dari besi. Ia dapat mengembang dengan panjang dua kali lipat dari aslinya. Ia mampu menjaring lebah yang secara fisik jauh lebih besar dibanding laba-laba si pemilik rumah jaring. Bahkan lebah yang terbang dengan kecepatan 22 km/jam pun dapat dihentikan tanpa pengaruh sedikit pun. Jaring itu tak tersobek!
Tak hanya itu, sebuah perusahaan pembuat benang medis, senar pancing, dan pakaian anti peluru di Kanada pun menggunakan benang laba-laba ini sebagai bahan baku. Subhanallah!
Lantas, jika fungsi kekuatan itu tampak sedemikian nyata, di mana letak kelemahan rumah jaring ini?
Hewan yang memiliki spesies lebih dari tiga puluh ribu ini tak ubahnya sebuah masyarakat sebagaimana lingkungan sosial manusia. Mereka memiliki perilaku yang sangat beragam. Penemuan ilmiah menyingkap perilaku sosial pada sebuah habitat laba-laba ini. Kepentingan pribadi dapat mengalahkan kepentingan bersama mereka. Demi kepentingan pribadi, mereka rela memusuhi teman sejawatnya. Tak puas dengan permusuhan, mereka rela saling bunuh! Dan, mayoritas mereka hidup dengan style ini. Hanya sebagian kecil saja di antara mereka yang hidup menghormati rambu-rambu ‘bermasyarakat’.
Lihatlah bagaimana kebejatan dan perilaku kriminal mereka itu ‘menghiasi’ sisi kehidupan. Secara fisik, pejantan mereka lebih kecil dibanding betinanya. Pejantan ini akan melarikan diri setelah melakukan hubungan lawan jenis atau pembuahan. Bukan –semata- karena si pejantan pengkhianat, tetapi memang perilaku si betina yang tidak punya nurani.
Membunuh, adalah kebiasaan si betina setelah ‘digauli’ si pejantan. Ya. Pejantan itu harus lari karena takut dibunuh oleh si betina! Lebih tragis lagi, betina ini akan menyantap bangkai si pejantan! Tatanan masyarakat apakah ini?!
Spesies lainnya, si betina membiarkan si pejantan untuk hidup dengan leluasa hingga kelak setelah anak-anaknya menetas dan tumbuh, anak-anak itulah yang akan membunuh si pejantan yang menjadi ayahnya.
Ada pula betina yang dengan susah payah menghidupi anak-anaknya, namun setelah anak-anaknya mampu mencari mata pencaharian sendiri mereka membunuh induknya. Tak hanya membunuhnya, dengan teganya mereka memakan induknya yang telah menjadi bangkai oleh ulah mereka sendiri.
Itulah gambaran singkat tentang tatanan masyarakat laba-laba. Sungguh, merupakan tatanan kehidupan sosial yang sangat rapuh. Bangunan rumah masyarakat mereka sedemikian lemah dan bobroknya. Tak ada kekuatan yang dapat menopang kehidupan sosial mereka.
Saat Allah memberikan perumpamaan tersebut dengan konteks kemanusiaan, tak dipungkiri tatanan kehidupan serupa pun terjadi pada ranah kehidupan manusia. Tak heran pula jika kemudian manusia bisa dinyatakan lebih sesat daripada hewan.
Miniatur yang ada pada tatanan kehidupan laba-laba itu ada dalam sebuah alam nyata kehidupan manusia. Ada sikut menyikut antar sesama manusia. Ada saling curiga, gunjing menggunjing, saling benci, saling caci, menyebar fitnah, dan sederet perilaku amoral yang menjadi ‘hiasan’ orang-orang lemah iman atau memang tanpa iman dalam dirinya. Bahkan hingga membuat mereka menghalalkan segala cara demi memenuhi hasrat nafsu. Perilaku haram tak ada lagi dalam kamus kehidupan mereka. Membunuh, berzina, dan dosa besar lainnya pun tak tampak sebagai dosa lagi!
Perilaku bejat yang sangat kompleks itu bukan –hanya- terjadi pada komunitas orang-orang tak beriman. Jangan pernah beranggapan demikian. Kembalilah memperhatikan ayat di atas. Allah tidak mengungkapkan pelaku utama yang mengambil perwalian itu orang-orang kafir. Allah men-generalisir pelakunya dengan “orang-orang yang”. Tidak menutup kemungkinan, bahkan sangat memungkinkan, pelakunya adalah orang yang menyatakan diri beriman tetapi keimanan mereka sedang turun atau memang sangat lemah.
Meski ironis, namun tak dapat dinafikan, dalam sebuah komunitas muslim yang intens dalam kegiatan keislaman pun dijumpai berbagai perilaku yang jauh dari nilai-nilai Islami. Disadari atau tidak, seringkali seorang yang mengklaim Islami pun terjerembab dalam masyarakat laba-laba.
Lalu, apa yang patut dibanggakan dari sebuah masyarakat rapuh bak masyarakat laba-laba? Adakah yang istimewa? Atau jangan-jangan justru malah lebih parah dari tatanan masyarakat laba-laba! Wal’iyadzu billah.
(rumahtajwid.com)

Tentang ali bashfar abu abdillah

Tahsin Online, Tadabbur Online, Tajwid Online, Ngaji Online, Quran Online
Pos ini dipublikasikan di REFLEKSI QURANI. Tandai permalink.

4 Balasan ke Masyarakat Laba-Laba

  1. sundari berkata:

    Maha Besar Allah dengan apa yang di ciptakanNYA…

  2. jardiyanto berkata:

    Benarkah bahwa malaikat 70 kali dalam sehari merenungi wajah kita? apakah dalam Al Quran atau hadist ada yang menyebutkan? mohon tausiahnya. Wassalam…

  3. Zakaria berkata:

    Alhamdulillah..saya baru membaca beberapa ayat al-angkabut(laba2), trus mencari di google tentang rumah laba2 dan mendapatkan artikel anda. Terimakasih, saya mendapatkan banyak ilmu dari artikel anda.

  4. ali bashfar abu abdillah berkata:

    Alhamdulillah, mudah2an bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s