DAI ‘KOLONG JEMBATAN’

Hongkong, Mei Foo, 4 April 2010

Siang itu ratusan muslimah berkumpul di sebuah ‘ kolong jembatan’ kokoh, yang merupakan tempat favorit untuk berkumpulnya para BMI ( Buruh Migran Indonesia). Itulah yang sering mereka sebut. Lebih nyaman dipanggil BMI dibandingkan TKW atau TKI.  Hampir tiap minggu mereka sengaja mampir ke tempat itu. Ada yang sekedar berkumpul melepaskan kepenatan kerja, ngerumpi, curhat, atau sekedar nongkrong tanpa tujuan. Hebatnya, diantara tujuan yang bermacam-macam, ada sekelompok muslimah yang berinisiatif mengadakan pengajian ditempat publik seperti ini.  Masing-masing   memang mempunyai  ‘markas’ nya sendiri untuk berkumpul. Ada yang memilih markas di Victoria Park, Taman besar disalah satu kota di hongkong. Taman yang sangat kondusif untuk dijadikan tempat melepas lelah. Selain taman, ternyata ada juga yang lebih memilih markas di sebuah kolong jembatan persis 15 meter dari stasiun kereta bawah tanah. Tepatnya di daerah Mei Foo. Itulah sebabnya mereka menamakan komunitas mereka dengan istilah keren. M3 singkatan dari Majelis Muslimah Mei foo

Termasuk tempat yang sangat cocok untuk mengadakan pengajian. Jangan dikira kolong jembatan yang dimaksud seperti gambaran kolong jembatan di negara kita. Kotor, bau, kumuh,sumpek, tidak nyaman. Sengaja mereka pilih tempat ini karena jika cuaca sedang hujan mereka tidak kehujanan, jika panas tidak kepanasan. Tidak perlu repot-repot memindahkan tikar jika ditengah acara pengajian hujan. Tidak perlu repot-repot menyewa tenda jika sedang kepanasan. Pilihan yang cerdas. Dari tangan merekalah kolong jembatan disulap menjadi masjid yang nyaman. Lebih nyaman dibandingkan masjid dirumah saya. Dihadapan para jamaah, saya katakan “ Ibu-ibu, baru kali ini saya mengisi pengajian di bawah kolong jembatan yang disulap menjadi rumah Allah yang sejuk dan nyaman” . Kontan saja perkataan saya itu membuat suasana menjadi ramai dengan tepukan tangan. Dalam hati, saya agak grogi menghadapi jamaah yang semuanya adalah kaum hawa. Muda, tua, single, janda, lengkap semua. Ditambah lagi  dengan kondisi lalu lalang warga asli hongkong yang sengaja memberhentikan langkah kakinya sekedar untuk menonton acara unik ini. Bagi mereka mungkin ini adalah tontonan yang menarik, bahkan ada yang sengaja mengambil gambar dengan kamera layaknya sedang menikmati pertunjukkan. Mereka begitu asyik memperhatikan gerakan kompak kami layaknya gerakan senam. Dipimpin oleh seorang lelaki muda, dengan menggunakan aba-aba berbahasa arab, wanita-wanita dibelakangnya kompak mengikuti gerakan ‘pelatih senamnya’ itu. Ada gerakan sujud, berdiri, duduk, rukuk. Tontonan yang cukup unik bagi mereka. Walaupun dalam hati, saya sedikit bergumam, “emangnya kite cowok apaan sih? Make ditonton begitu! “

Lima belas menit sebelum ceramah dimulai, saya sempat berbincang bincang dengan panitia dan pengurus organisasi itu. Dari merekalah saya bisa mengambil banyak inspirasi dan pelajaran. Mereka menjalankan aktifitas pengajian mingguan ini sejak bertahun-tahun yang lalu. Pengajiannya pun bervariasi, tidak melulu baca quran dan dengar ceramah. Ada program tambahan yang mereka jalankan. Latihan menjahit, bahasa inggris, tahsin Al Quran dan keterampilan lainnya. Semua untuk bekal mereka jika pulang ke Indonesia. Selain uang, ada skill baru dan pengetahuan tambahan yang mereka miliki untuk melanjutkan kehidupan. Sangat kreatif dan Inofatif.

Salah seorang pengurus yang sudah memasuki usia senja sempat mengatakan, “ Ustad, inilah perjuangan kami. Ustad bisa lihat sendiri. Apapun rintangannya, akan kami hadapi ! “ Subhanallah, ungkapan seorang muslimah sejati. Mereka tidak mau dibilang sebagai seorang da’iyah karena kerendahan hati. Padahal diri merekalah yang layak disebut sosok da’iyah mujahidah sejati. Benar saja, selama ini saya baru membaca sekilas mengenai geliat dakwah di negeri hongkong yang dipenuhi dengan kisah-kisah heroik dan mengharukan. Sekarang, saatnya saya melihat dihadapan mata saya sendiri. Nyata  dan Fakta. Di sebelah kiri dari tempat kami duduk, ada sekitar 10 orang Phililipina yang asyik dengan permainan judinya. Tepat didepan kami, ada sekitar puluhan orang mengadakan kebaktian plus dengan nyanyian-nyanyian ‘suci’nya. Semakin kami bersuara, semakin keras suara mereka. Sangat terlihat kesengajaan mereka untuk mengganggu kenyamanan kami. Dan biasanya, jika suara kami lebih keras maka petugas keamanan akan siap melabrak kami. Biasanya kami yang akan mengalah untuk mengecilkan suara.

Tanpa ada ketakutan sedikitpun, mereka melanjutkan pengajian walaupun dibayang-bayangi oleh kawalan polisi dan gangguan – gangguan penyanyi murahan. Tepat pada saat saya memulai ceramah, panitia dan pengurus pengajian kompak melakukan gerakan dakwah yang simpatik. Mirip seperti yang dilakukan oleh teman-teman dari jamaah tabligh. Mereka mendekati para wanita yang sedang duduk asyik bercengkrama dengan sahabatnya, ngerumpi, curhat atau sekedar bengong tidak ada aktifitas. Mayoritas mereka berpakaian seadanya karena memang niatnya adalah untuk refreshing. Dengan ajakan dari hati ke hati, tak sedikit diantara wanita-wanita itu yang akhirnya mau merapat dan ikut bergabung mendengarkan tausiyah. Dan bisa jadi, para muslimah yang saat ini rajin mengikuti pengajian, dulu nasibnya sama seperti mereka. Sekedar ikut dengar tanpa sengaja, tertarik, dan akhirnya memilih untuk hijrah menjadi muslimah yang baik. Para muslimah itu, lebih memahami Fiqh dakwah melalui praktek langsung di medan dakwah yang cukup menantang. Salut dan bangga mengenal pejuang dakwah seperti mereka. Semoga Allah memberikan kekuatan dan ketegaran kepada para pejuang dakwah dibelahan bumi manapun. Begitu banyak cerita, pengalaman dan pelajaran yang belum terungkap dari mereka…

(bersambung…)

Heru Basfar

Tentang ali bashfar abu abdillah

Tahsin Online, Tadabbur Online, Tajwid Online, Ngaji Online, Quran Online
Pos ini dipublikasikan di DUNIA QURAN. Tandai permalink.

7 Balasan ke DAI ‘KOLONG JEMBATAN’

  1. Ida Raihan berkata:

    Semoga para muslimah itu tetap istiqomah dalam berdakwah meskipun berada di negeri sekuler…

  2. wahyu aidil berkata:

    Alangkah indahnya juga , jika BMI merangkul KBRI dan muslim warga tempatan untuk dapat bekerjasama , sehingga BMI dapat memiliki akses untuk menggunakan fasilitas yang lebih baik dari sekarang. namun demikian, semoga apa yang ada sekarang dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh BMI disana.

  3. edys berkata:

    Subhanallah salut pada mereka, moga tetap istiqomah
    dan kami bisa ikut andil berjuang di negeri rantau seperti mereka..aamiin

    Sungguh indah perjuangan di negeri orang🙂 semoga bisa kita kenang di surga kelak ..aamiin

  4. lutfi berkata:

    salam buat mereka dari perindu bidadari syurga…

    jentik jemarimu yg melahirkan takbir membahana
    usapan lembut meneduhkanmu yg membenamkan keteguhan di dada
    juga cintamu yg menumbuhkan para perwira dan bidadari syurga..kaulah IBU.

    btw..kaifa haluq ust? dah lama nieh kopassus ga jalan..kangen..

  5. ali bashfar abu abdillah berkata:

    amiin. Mudah2an bisa pulang dengan selamat…

  6. ali bashfar abu abdillah berkata:

    Justru Pengajian disana awal mulanya berasal dari pengajian yang dibentuk KBRI. Tempat yang mereka pilih itu bukan karena mereka tidak sanggup bayar sewa gedung. Sering juga kok mereka mengadakan acara didalam gedung. Bahkan acara berskala besar yang pesertanya ribuan. Tempat seperti taman dan semacamnya digunakan untuk menjadi sarana syiar efektif bagi BMI lain yang belum tersentuh dengan Islam. Kalau memilih di Masjid, banyak yg berfikir dua kali untuk masuk masjid….

  7. ali bashfar abu abdillah berkata:

    Berjuang di negeri sendiri gak kalah indah lho akh edy. Tapi memang diakui, militansi teman2 diluar lebih tinggi karena tingkat tantangan dan medan yang sangat menantang. Seperti menjadi sebuah hukum alam bahwa tantangan akan melahirkan militansi perjuangan. Semoga kita semua bukan hanya dikenang namun tercatat namanya menjadi penghuni syurga allah…Amiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s